Membaca Semiotika Kepala dan Mahkota Manusia Jawa
Muktilaku.my.id- Bagi masyarakat Jawa, kepala bukan sekadar bagian anatomi tubuh yang terletak di puncak tertinggi. Kepala adalah bramandha kecil—sebuah jagat cilik atau mikrokosmos yang menjadi stana bagi tiga poros utama kemanusiaan, yaitu cipta, rasa, dan karsa. Oleh karena itu, apa yang disampirkan di atasnya tidak pernah menjadi sekadar penutup mekanis untuk berlindung dari terik matahari. Kain yang melingkar di kepala adalah sebuah pernyataan spiritual, kultural, sekaligus artefak peradaban yang kaya akan makna. Dalam membingkai eksistensi ini, masyarakat Jawa melahirkan udheng, blangkon, dan tradisi mengikat kepala (tutuk) sebagai wujud materialisasi dari falsafah hidup yang adiluhung, yang jika dibedah secara ilmiah melalui kacamata antropologi dan sosiokultural, menyimpan struktur pembentuk kepribadian yang sangat sistematis. Buku tentang Tutup Kepala Tradisional Jawa Akar dari segala penutup kepala Jawa bermula dari udheng. Secara etimologis-filosofis melalui metode kerata ba...