Warisan Hidup itu Bernama Wedhatama
Muktilaku.my.id - Salah satu tradisi dan menjadi kearifan nusantara, khususnya di Jawa adalah jagongan. Duduk bersila dengan kopi dan udud yang nyempil di sela-sela jari, pala pendhem dan makanan ringan yang tersaji seakan menjadi saksi sebuah perjumpaan saling mendengar dan bertutur tentang apapun.
Sampai hari ini, jagongan masih kerap dijumpai dalam berbagai kegiatan, pasca slametan, acara-acara formal kemasyarakatan atau sekadar kongkow di gardu dan brak-brak pertigaan kampung. Seperti tidak ada yang menarik dari jagongan, tapi ada nilai yang samar – yang tidak sedikit menganggap menghabiskan waktu berlalu begitu saja. Padahal terselenggaranya sebuah komunikasi tak luput dari jagongan.
Selasa, 10 Februari 2026 lalu di Lawangsari Cafe, Gubukklakah Poncokusumo Malang, jagongan terasa hangat dan penuh, tidak ada jarak yang dibuat-buat di antara yang bersila duduk bersama, baik laki-laki pun perempuan. Jaket tebal dan sarung yang tanggal di antara leher dan dada menjadi simbol kehangatan namun penuh semangat, sinahu bareng tentang warisan budaya berupa serat yang lahir dari rahim kesadaran tentang etika dan moral sosial.
![]() |
| Mas Irfan Afifi, Pembina Muktilaku |
Komunitas kebudayaan Muktilaku, Pancasuman, Republik Gubuk dan Lampah Klakah menggelar Njagong Wedhatama. Sebuah serat yang tentu asing di telinga Gen-Alpha, bahkan Gen-Z sekalipun. Namun perlu dikaji dan disinahoni bersama, tentu yang dirawat bukan sekadar forum diskusi jagongannya, melainkan ruang batin untuk menghidupkan kembali ajaran, nilai dan kearifan Serat Wedhatama dalam konteks kehidupan sosial hari ini.
Sebelum jagongan, tradisi ngujubaken dilafadzkan oleh Romo Madeli, Seorang Romo Dukun Tengger wilayah Gubukklakah. Sebuah ritus melangitkan ucap syukur dan harap dengan khidmat, menyatukan ruang kafe dengan lanskap sakral pegunungan dan hutan pinus yang rimbun. Hening sejenak, namun riuh dalam benak, sebuah doa dan mantra khas Tengger yang melantun menyelinap di antara kembang setaman, sesajen, sepiring nasi putih lengkap dengan lauk, jajanan pasar dan asap dupa yang melambar menuju pada penyatuan dengan alam, manunggal.
Pembahasan dalam jagongan tersebut adalah tentang Serat Wedhatama, sebuah karya serat KGPAA Mangkunegara IV, lahir dari rahim kebudayaan keraton. Namun ia tidak berdiri sebagai teks yang jauh dan eksklusif, ia hadir dan begitu dekat dalam kehidupan rakyat, kesadarannya adalah tentang manusia, bukan tentang ruang pembatas bernama keraton atau sekadar huma yang dihuni oleh masyarakat biasa.
Sayangnya hari ini, batas dinding besar itu kerap dijumpai di ruang-ruang sosial, dekat sekali dengan kita, baik itu lembaga pendidikan sub-kultur yang bernama pesantren, pejabat, bahkan dalam ruang yang melegitimasi dirinya sebagai budayawan, seniman sekalipun, begitu tinggi dan tebal dinding pembatasnya, tidak terbuka dan manunggal bersama manusia yang lain. Inilah salah satu alasan mengapa penting mengkaji serat-serat tinggalan para arif dan leluhur di masa lalu.
Irfan Afifi, seorang budayawan, founder dari Langgar.co membedahnya secara kontekstual, membawanya turun dari menara simbolik, dari menjulangnya pemahaman langit menuju tanah realitas sosial. Dipandu Ahmad Dahri sebagai moderator, percakapan mengalir cair, kadang reflektif, kadang diselingi guyon tipis memecah suasana.
Di sela-sela penjabaran Irfan tentang sembah catur, suasana mendadak berubah khidmat ketika KI Randi Dipanalendra maju dan melantunkan sebagian bait dari Pupuh Pangkur dalam Serat Wedhatama. Suaranya dalam, pelan, tetapi tegas. Tembang itu tidak sekadar dibaca, ia dihidupkan dengan pakem macapat yang mengalun penuh dan dalam.
Salah satu bait Pangkur yang dilantunkan berbunyi:
“Mingkar mingkuring angkara,
akarana karenan mardi siwi,
sinawung resmining kidung,
sinuba sinukarta
mrih kretarta pakartining ngelmi,
kang tumrap neng tanah Jawi,
agama ageming aji.”
Bait itu seperti menembus kabut yang memeluk pinus, menyublim bersama rintik yang menggoda dedaunan, membasahi tanah dengan aroma khasnya. “Mingkar mingkuring angkara” menjauh dari angkara murka, menjadi pintu masuk refleksi. Wedhatama sejak awal memang mengajarkan pengendalian diri sebagai syarat utama menjadi manusia utama. KI Randi tidak hanya melantunkan teks; ia menghidupkan ruhnya. Semua yang hadir turut larut, sebagian memejamkan mata, meresapi tiap larik yang sarat makna.
Sembah raga menjadi pemantik pembahasan, bahwa tidak sedikit rasa sadar itu tidak menemui tempatnya, evaluasi diri contohnya, tidak sedikit yang anti kritik, merasa kena mental, bahkan bangunan mentalnya begitu rapuh, sehingga kerap kebakaran jenggot, mudah tersulut. Menjauh dari angkara bukan sekadar sikap batin, tetapi praktik sosial.
Sembah raga berarti disiplin lahiriah, bekerja jujur, menjaga lingkungan, tidak sewenang-wenang. Di lereng Malang yang subur ini, sembah raga bisa diwujudkan lewat cara bertani yang arif, cara berdagang yang tidak culas, cara memperlakukan sesama dengan hormat. Tubuh menjadi instrumen etika.
Beranjak ke pembahasan sembah cipta, diskusi menyentuh pentingnya kejernihan nalar. Wedhatama mengingatkan agar manusia tidak gumunan lan kagetan. Dalam dunia yang penuh distraksi dan polarisasi, sembah cipta menjadi benteng dari fanatisme dangkal. Pikiran yang senantiasa ditumbuhkan adalah pikiran yang mau belajar, mau mendengar, aja dumeh, merasa paling benar. Ilmu harus disejajarkan dan dipraktiskan dengan budi. Ilmu iku kelakune kanti laku.
KI Randi kembali melantunkan potongan Pangkur lain dengan intonasi yang lebih lirih, dan ditutup dengan ilir-ilir. Tembang macapat itu seolah menjadi jeda kontemplatif di antara analisis rasional. Perpaduan antara penjelasan konseptual dan lantunan tembang membuat forum terasa utuh: antara cipta dan rasa, antara diskursus dan laku seni.
Masuk ke sembah jiwa, suasana makin reflektif. Jiwa dalam Wedhatama adalah pusat kesadaran diri—eling lan waspada. Dalam konteks sosial, sembah jiwa berarti empati. Kemampuan merasakan penderitaan orang lain, tidak gampang menghakimi, tidak reaktif dalam perbedaan. Jiwa yang matang tidak mudah terseret emosi kolektif. Ia teduh, namun tidak apatis.
Disadari atau tidak, hari ini betapa mudahnya ujaran kebencian berseliweran, betapa cepatnya orang menghakimi di ruang digital. Dalam situasi seperti itu, laku sembah jiwa menjadi latihan pengendalian diri yang konkret. Ia bukan mistik abstrak, melainkan etika sosial yang sangat praktis.
Puncaknya adalah sembah rasa, yang menaungi mulat sarira, mendhem jeru, mikul dhuwur, dan lain sebagainya. Inilah wilayah paling subtil dalam Wedhatama. Rasa bukan sekadar perasaan sentimental, melainkan kedalaman intuisi batin. Sembah rasa membuat manusia mampu membaca konteks, memahami nuansa, dan bertindak dengan kebijaksanaan (terjadi harmoni). Tanpa rasa, hukum bisa kaku. Tanpa rasa, kebijakan bisa melukai.
Mas Irfan menegaskan bahwa empat konsep nilai ini bukan jenjang yang terpisah, melainkan saling terkait. Raga tanpa cipta akan kosong. Cipta tanpa jiwa akan dingin. Jiwa tanpa rasa akan kering. Dan rasa tanpa raga tidak akan menemukan bentuk praksisnya. Wedhatama menawarkan integrasi.
Walaupun sifatnya jagongan, namun alur diskusi tetap terarah, bahkan ruang partisipasi bagi semua yang hadirpun terjaga, diskusi bukan satu arah, tetapi melingkar, saling mengisi dan melengkapi satu sama lain; ada yang dari Kalipare, Tumpang, Wajak, Pakis dan Dampit. Njagong menjadi betul-betul dialogis. Tidak ada jarak antara narasumber dan peserta. Semua duduk sejajar, sebagaimana semangat andhap asor, sublimasi nilai ini yang jarang dijumpai, karena kebanyakan adalah satu arah, yang didepan merasa sudah paling benar, paling baik, sehingga peserta yang hadir tidak memiliki ruang untuk menambal sulam informasi yang tidak lengkap.
Ketika tembang Pangkur terakhir selesai dilantunkan, suasana terasa lebih hening daripada sebelumnya. Seolah setiap orang sedang bercermin pada dirinya sendiri. Wedhatama tidak lagi sekadar teks klasik, tetapi cermin etika. Ia bertanya pelan, sudahkah kita menjauh dari ketidak pantasan, gak ilok? Sudahkah kesadaran kreatif itu benar-benar berdampak manfaat bagi sekitar? Sudahkah jiwa kita teduh? Sudahkah rasa kita sensitif, peka dan terbuka?
Kabut makin menebal, malam larut, pinus-pinus seakan dilahap oleh gelap, temaram lampu-lampu memanjakan mata. Orang-orang pulang dengan langkah pelan, ada kesalingan yang terbangun, membawa percikan makna. Njagong Wedhatama di Gubukklakah itu mungkin sederhana, tetapi ia menegaskan satu hal, bahwa kebudayaan akan tetap hidup selagi dipegang erat, dikaji, disinahoni bareng-bareng, agar tidak lupa jati diri. Serat tidak cukup dibaca; ia harus dinyanyikan, direnungkan, dan diwujudkan dalam laku.
Artinya, jagongan bukan menjadi ruang rasan-rasan, ia menjadi ruang duduk bersama, belajar, saling mengisi. Karena dari sana, kita senantiasa menjadi manusia utama bukan soal kemelekatan, harta benda, gelar sarjana atau strata sosial, tapi soal kematangan budi dan kedalaman rasa. Wedhatama tetap relevan, sebab ia berbicara tentang hal paling mendasar, yaitu tentang bagaimana menjadi manusia paripurna dan selesai dengan dirinya sendiri.[]

Komentar
Posting Komentar