Merawat Jejak, Menjalani Laku, Perjalanan Gotong Royong

Muktilaku.my.id - Tidak terasa, Komunitas budaya mukti laku sudah masuk pada tahun ketiga. Komunitas budaya Mukti Laku lahir pada 17 November 2023 di Malang dari kegelisahan yang sederhana namun mendalam: semakin jauhnya manusia dari akar budayanya sendiri. Bagi Mukti Laku, budaya bukan sekadar artefak, bukan pula romantisme masa lalu, melainkan laku hidup—cara manusia memahami dirinya, lingkungannya, dan relasi sosial yang ia bangun dari hari ke hari.

Sejak awal, Mukti Laku memilih untuk tidak berjalan sendiri. Mereka menyadari bahwa pengetahuan budaya tidak hidup di ruang seminar semata, tetapi berdiam di desa, di adat, di tutur para sesepuh, dan di praktik keseharian masyarakat. Dari kesadaran inilah kolaborasi dengan berbagai lembaga adat dan komunitas lokal mulai dirintis.

Rangkaian Kegiatan 3 tahun terakhir Komunitas Budaya Muktilaku

Di Desa Kalipare, Mukti Laku bertemu dengan lembaga adat yang masih menjaga nilai-nilai lokal sebagai penopang kehidupan desa. Kolaborasi ini menjadi ruang belajar yang hidup—bukan dalam bentuk ceramah satu arah, melainkan dialog antargenerasi. Mukti Laku mendengarkan kisah-kisah lisan, sejarah lokal, serta cara masyarakat Kalipare merawat tradisi sebagai bagian dari tata kehidupan mereka. Sampai akhirnya, haul Pangeran Dipanegara yang awalnya dihadiri secar daring oleh Prof. Peter Carrey, dan dilanjutkan oleh Mas Irfan Afifi sudah dilaksanakan ke dua kalinya, dan akan terus berlanjut. Dari sini, Mukti Laku belajar bahwa adat bukan aturan kaku, melainkan kesepakatan hidup yang tumbuh dari pengalaman bersama.

Di kawasan Wonorejo Gunung Jati, kolaborasi berkembang pada pembacaan hubungan antara budaya, alam, dan spiritualitas. Bersama lembaga adat setempat, Mukti Laku terlibat dalam kegiatan reflektif yang menempatkan ruang dan alam sebagai bagian penting dari kebudayaan. Gunung, hutan, dan situs-situs lokal tidak diperlakukan sebagai objek wisata semata, tetapi sebagai ruang ingatan kolektif. Di sinilah Mukti Laku memperdalam pemahaman bahwa budaya selalu terikat dengan lanskap, dan merawat budaya berarti juga merawat alam.

Kolaborasi dengan Gubuk Klakah menghadirkan nuansa yang lebih intim dan membumi. Gubuk Klakah menjadi ruang berkumpul yang bersahaja—tempat diskusi, pembacaan teks, hingga perenungan nilai-nilai budaya berlangsung tanpa jarak hierarkis. Di sini, Mukti Laku dan komunitas setempat saling berbagi pengalaman hidup, mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebijaksanaan lokal. Proses ini mempertegas prinsip Mukti Laku bahwa belajar budaya adalah belajar menjadi manusia: mendengar, menghormati, dan memahami.

Memasuki 2024 hingga 2025, Mukti Laku semakin memantapkan perannya sebagai penghubung antara komunitas adat, pemuda, dan ruang kajian budaya. Kegiatan tidak lagi berhenti pada diskusi, tetapi berkembang menjadi pengalaman hidup bersama—tinggal, berproses, dan menyelami ritme masyarakat lokal. Kolaborasi dengan lembaga adat Desa Kalipare, Wonorejo Gunung Jati, dan Gubuk Klakah menjadi fondasi penting dalam membangun pendekatan budaya yang empatik dan berkelanjutan.

Hingga 2025, Mukti Laku tumbuh sebagai komunitas yang mempraktikkan apa yang mereka yakini: bahwa budaya harus dijalani, bukan hanya dibicarakan. Kolaborasi dengan lembaga-lembaga adat bukan sekadar program, melainkan ikhtiar merawat hubungan manusia dengan sejarah, alam, dan sesamanya. Dalam perjalanan ini, Mukti Laku tidak menempatkan diri sebagai pusat, tetapi sebagai bagian dari jejaring budaya yang saling menguatkan.

Perjalanan Mukti Laku, merawat budaya berarti menjalani laku—pelan, penuh kesadaran, dan setia pada proses. Sebab kemuliaan budaya, seperti kemuliaan hidup, hanya bisa dicapai dengan berjalan bersama. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peta Historiografi Islam Nusantara

Lahir, Tumbuh dan Menanam Kembali

Meruya Muktilaku IPNU-IPPNU