Gunungjati, Bagor dan Segala Perjumpaan

Muktilaku.my.id - 5 Februari 2026 menjadi titik balik perjumpaan yang senantiasa disyukuri sebagai warisan perjumpaan dari masa lalu, perjumpaan yang menjadi warisan spirit antar personalitas, individu dan kosmik kecil (jagad cilik). Di Punden, di bawah tiga randu yang menjulang tinggi kehangan itu menjadi spirit kosmos dalam bentuk syukur. Di Desa Gunungjati, dusun Bagor Jabung, kami melingkar dalam sambung leluhur dengan duduk bersila bersama (paselan jati). 

Ini adalah bagian dari ucap dan sikap syukur, membangun kesadaran kausalitas horizontal dan vertikal, antara manusia, alam semesta dan Tuhan. Sebuah ungkapan dari kanjeng Nabi melalui periwayatan Abu Dawud menegaskan bahwa tidak dikatakan bersyukur kepada Tuhan, selagi ia tidak pernah menghargai dan berterima kasih kepada sesama manusia (man la yaskuru annas, la yaskuru Allaha). Interpretasinya adalah menautkan diri dengan alam, alam semesta dan alam kecil (manusia) dengan sikap yang disebut matur suwun. 

Kata para sepuh ini menjadi ruang aktualisasi filosofis "mikul dhuwur mendhem jeru", bahwa menghargai warisan para leluhur dan mengaplikasikan dalam kegiatan sosial kemasyarakatan adalah warisan luhur budaya yang perlu dipertegas dan dijalankan terus menerus. 

Bersama teman-teman Muktilaku, komunitas budaya yang lahir dari semangat kultur tanpa embel-embel apapun, semata untuk senantiasa sinahu bareng. Menggali kearifan-kearifan yang sudah bertumpuk, padahal tanpa di sadari ia menjadi spirit sosial bersama, memiliki pengaruh dan dampak pada keberlangsungan kehidupan.  

Recap kegiatan Mukti Laku dan Teman-teman desa Gunung jati, Jabung Malang

Kehidupan terus berlanjut, segala dinamika dan dialektinya juga semakin beragam. Apalagi manusianya, kesadarannya, dan corak pemikirannya. Pertanyaannya adalah sepenting itukah sebuah punden? atau sejauh mana punden itu memberi pengaruh terhadap kelangsungan hidup? 

Dalam pranata sosial kita tentu kenal desa kala patra, dimensi temat, dan waktu. Secara kolektif kehidupan ini tentu saling melengkapi, ada potensi yang saling mengisi satu sama lain. Punden bukan semata tempat jujugan spiritual, ia menjadi kontrol sosial yang ketat dan syarat etika, dalam tradisi jawa dikenal gak ilok, saru, sebagai bentuk early warning untuk senantiasa saling menjaga dan menghormati satu sama lain, bahkan alam sekalipun. 

Berangkat dari keresahan pemuda-pemuda desa Gunungjati tentang pundennya, serta kerisauan yang perlu segera dijawab, maka melingkar bersama dalam paselan jati adalah bagian dari upaya menjawab kegelisahan dan kerisauan mereka. Tentu dengan berbagai dinamika dan relasi yang dibangun dari luar untuk melengkapi jawaban itu. Memang tidak menjamin kebenaran yang mutlak, paling tidak ini menjadi pintu awal mengenali warisan, afirmasi dan langkah apa yang harus dilakukan ke depan. 

Kebaikan bersama, kerukunan dan gotong royong adalah kata kuncinya. Dari duduk bersama itulah lahir kesadaran sosial, kesadaran sosial keagamaan, keberagaman cara berpikir yang menjadi satu saling melengkapi setiap langkah. Ini sesuai dengan tanaman jambu air batu (kelampok watu), sawoh, dan randu yang ada dan pernah tumbuh di area "pepunden" itu. 

Pertanyaannya adalah perlukah kita tahu nama atau titik utama punden? dari pertanyaan ini akan melahirkan ragam jawaban dengan berbagai corak pemikiran pemuda dan sesepuh desa Gunungjati, tapi spirit yang menjadi satu dalam tempat yang diyakini dan digali data keberadaannya; baik secara tutur, data empirik, analitik dan data-data bacaan, akan mengerucutkan kepada satu kesepakatan yaitu paselan jati, duduk bersama, melingkar bersama dan belajar bersama menuju pada kesejatian, yaitu rasa terima kasih dan syukur pada Tuhan. 

Dari makam mbah Husein, dan area punden, dengan teman-teman komunitas Budaya Mukti Laku, senantiasa belajar bahwa menjaga dan melestarikan warisan luhur itu adalah amanah dan tantangan yang besar, perlu saling bergandeng tangan dan gotong royong membangun peradaban, kesejahteraan yang paling dekat, lokal lalu meluas.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peta Historiografi Islam Nusantara

Lahir, Tumbuh dan Menanam Kembali

Meruya Muktilaku IPNU-IPPNU