Mula-mula kita perlu mensyukuri anugerah Tuhan yang berupa kesadaran berpikir. Sehingga perlu kita mendayagunakan anugerah itu, minimal membaca diri sendiri. Dalam surat Al-A’raf ayat 175 yang berbunyi watlu ‘alaihim naba'alladzî âtainâhu âyâtinâ fansalakha min-hâ fa atba‘ahusy-syaithânu fa kâna minal-ghâwîn.
Kira-kira artinya adalah “Bacakanlah (Nabi Muhammad) kepada
mereka (tentang) berita orang yang telah Kami anugerahkan ayat-ayat Kami
kepadanya. Kemudian, dia melepaskan diri dari (ayat-ayat) itu, lalu setan
mengikutinya (dan terus menggodanya) sehingga dia termasuk orang yang sesat.
Ayat ini perlu kita lemparkan pada diri kita, bahwa yang sudah
menerima pengetahuan, hafal ayat-ayat kitab suci dan hafal beragam hadits,
namun masih terjebak pada egosentris dan rasa benar, sehingga menganggap yang
lain salah, tersesat, burem, tidak putih seperti dirinya, tidak
mengikuti sunnah sepetri dirinya, dan lain sebagainya. Dan kita perlu membaca
ayat ini bukan untuk menghakimi orang lain, tetapi membaca diri sendiri.
Ada sesuatu yang barangkali tidak pernah selesai dalam diri manusia,
yaitu keinginan untuk menjadi lebih dari keadaan yang sedang ia miliki. Ketika
belum mempunyai apa-apa, ia membayangkan betapa indahnya jika suatu hari
memiliki sesuatu; ketika sudah memiliki, keinginannya tidak serta-merta
berhenti, justru sering tumbuh menjadi keinginan baru yang lebih besar. Semakin
unggul, potensi untuk mengungguli itu sangat besar, dan membangun keunggulan
baru.
Ia mengejar pengetahuan, kedudukan, pengaruh, penghormatan, bahkan
pengakuan atas kesalehannya sendiri, seolah kehidupan adalah tangga yang harus
terus dinaiki sampai seseorang dapat melihat dirinya jauh lebih tinggi daripada
orang lain. Padahal, semakin tinggi seseorang naik, semestinya semakin luas
pula kesadarannya tentang betapa kecil dirinya di hadapan keluasan kehidupan
dan kebesaran Tuhan.
Paradoksnya adalah manusia memiliki anugerah kesadaran untuk
berkembang, namun kerap terjebak pada rasa tidak puas. Kita mengenal banyak
orang yang kehidupannya sudah jauh lebih baik daripada yang pernah mereka
bayangkan ketika memulai perjalanan, tetapi anehnya hati tetap merasa
kekurangan dan selalu menemukan alasan untuk mengejar sesuatu yang lain.
Kekurangan tidak selalu berada pada apa yang dimiliki, melainkan
sering berada pada cara seseorang memandang apa yang dimilikinya. Maka
persoalannya bukan apakah manusia boleh memiliki cita-cita dan keinginan untuk
maju, tetapi apakah di tengah perjalanan itu masih ada kesadaran tentang rasa
cukup? Mari kita temukan jawabannya dalam diri masing-masing.
Al-Qur'an mempunyai cara yang sangat khas ketika menegur manusia
yang kehilangan rasa cukup. Dalam Surat At-Takatsur ada ayat pertama menegaskan
bahwa “Alhakumut-takatsur, hatta zurtumul-maqabir.” Bermegah-megahan
telah melalaikan manusia, sampai ia mengunjungi kubur (lupa menziarahi diri
sendiri).
Ayat itu terasa semakin panjang maknanya ketika kita membawanya ke
dalam kehidupan hari ini, sebab kemegahan tidak selalu berbentuk rumah yang
besar, kendaraan yang mahal, atau harta yang bertumpuk; ia dapat berubah
menjadi kemegahan pengetahuan, jabatan, popularitas, jumlah pengikut, bahkan
kemegahan atas kesalehan diri sendiri. Manusia dapat menghabiskan hidup untuk
memperbesar sesuatu yang pada akhirnya tidak ikut masuk ke dalam liang kubur
bersamanya.
Zaman kita adalah zaman yang sangat pandai mengubah sesuatu menjadi
angka, termasuk manusia. Pengaruh diukur dari jumlah pengikut, keberhasilan
diukur dari jumlah orang yang mengenal nama kita, dan kesalehan publik
kadang-kadang dinilai dari seberapa sering seseorang hadir di ruang-ruang yang
dapat dilihat banyak orang.
![]() |
| Beragama dengan Menjaga Keindahan |
Kita mudah lupa bahwa jumlah pengikut tidak selalu berbanding lurus
dengan kedalaman kebijaksanaan, sebagaimana banyaknya orang yang mendengarkan
seseorang tidak otomatis membuktikan bahwa kata-katanya telah menjadikan
kehidupan lebih baik. Ada orang yang tidak memiliki panggung besar tetapi
setiap hari membuat tetangganya merasa tertolong, sementara ada pula orang yang
memiliki panggung luas tetapi kehadirannya justru membuat orang lain semakin
takut, terbelah, dan saling mencurigai.
Kesalehan sosial kerap menghadapi persoalan yang cukup serius
ketika ukuran utamanya bergeser dari kebijaksanaan menuju kekuasaan. Orang yang
mempunyai banyak pengikut lebih mudah dianggap berpengaruh daripada orang yang
diam-diam bekerja untuk masyarakat tanpa pernah mencari sorotan, dan orang yang
memiliki kemampuan menggerakkan massa kadang dianggap lebih penting daripada
mereka yang memiliki kemampuan mendamaikan dua orang yang sedang bertengkar.
Kita seperti sedang membangun sebuah masyarakat yang lebih mudah
mengenali siapa yang berkuasa daripada siapa yang arif. Padahal kekuasaan dapat
membuat seseorang didengar, sedangkan kebijaksanaan membuat apa yang
didengarkan itu tidak menjadi sumber kerusakan bagi orang lain.
Mungkin karena itu kita perlu berhati-hati ketika menggunakan
istilah kesalehan publik. Kesalehan tidak selalu identik dengan sesuatu yang
terlihat, sebab ada kebaikan yang justru tumbuh dengan sangat subur dalam
kesunyian dan tidak pernah membutuhkan kamera untuk membuktikan keberadaannya.
Seorang ibu yang bertahun-tahun merawat keluarganya, seseorang yang
diam-diam membantu tetangganya yang sedang kesulitan, atau seorang guru yang
menghabiskan hidupnya mendampingi murid-murid yang tidak pernah terkenal,
mungkin tidak memiliki pengikut dalam pengertian modern, tetapi kehidupannya
telah menjadi jalan bagi kebaikan.
Di situlah kita kembali diingatkan bahwa nilai manusia tidak selalu
berada pada seberapa banyak orang melihatnya, melainkan pada seberapa banyak
kehidupan yang menjadi lebih baik karena kehadirannya.
Persoalan menjadi semakin rumit ketika agama masuk ke dalam ruang
pencitraan. Kita hidup pada masa ketika agama dapat dengan sangat mudah
diproduksi menjadi gambar, video, kutipan, simbol, dan pertunjukan identitas,
sehingga batas antara menjalankan agama dan menampilkan diri sebagai orang
beragama kadang-kadang menjadi begitu tipis.
Nilai-nilai agama tetap dibicarakan dengan sangat fasih, tetapi
tidak selalu menemukan jalannya ke dalam perilaku sehari-hari; seseorang dapat
berbicara tentang kasih sayang tetapi begitu mudah merendahkan, berbicara
tentang persaudaraan tetapi menikmati perpecahan, atau berbicara tentang
keikhlasan sambil diam-diam menunggu pengakuan.
Agama akhirnya berisiko menjadi semacam simulasi, tampilan luarnya
hadir dengan sempurna, sementara nilai yang seharusnya hidup di dalamnya justru
perlahan kehilangan tempat.
Ara'aytalladzi yukadzdzibu bid-din. Fadzalikal-ladzi yadu'ul-yatim.
Wa la yahudhdhu 'ala tha'amil-miskin. Tahukah kita siapa orang yang mendustakan agama? Ia adalah orang
yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.
Ayat ini seperti menarik agama turun dari tempat yang tinggi ke
tanah kehidupan sehari-hari, ke tempat manusia bertemu dengan orang lemah,
orang miskin, orang yang tidak memiliki kuasa untuk membalas perlakuannya.
Seakan-akan keberagamaan sedang diuji bukan hanya ketika seseorang
berbicara tentang Tuhan, tetapi ketika ia berhadapan dengan manusia yang tidak
dapat memberikan keuntungan apa pun kepadanya.
Lalu apa gunanya seseorang semakin banyak berbicara tentang Tuhan
apabila manusia di sekitarnya semakin tidak merasa aman karena kehadirannya?
Apa gunanya seseorang mengetahui begitu banyak hukum agama jika pengetahuannya
membuat ia semakin mudah menghina orang yang berbeda, dan apa gunanya seseorang
berbicara tentang akhlak jika orang-orang terdekatnya justru mengenal dirinya
sebagai pribadi yang kasar dan tidak mau mengalah?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini bukan untuk meniadakan pentingnya
ilmu agama, melainkan untuk mengembalikan ilmu kepada tujuan yang lebih dalam,
yaitu perubahan manusia. Sebab pengetahuan yang tidak pernah turun menjadi
akhlak mungkin hanya akan menambah jumlah informasi di kepala tanpa mengurangi
kesombongan di dalam dada.
Barangkali salah satu persoalan terbesar manusia beragama adalah
ketika ia mulai menganggap dirinya sudah selesai. Setelah mengetahui sesuatu,
ia tidak lagi merasa perlu mendengarkan; setelah menemukan keyakinan, ia tidak
lagi merasa perlu memahami; setelah merasa berada di pihak yang benar, ia mulai
mencari kesalahan orang lain sebagai pembuktian bahwa dirinya memang benar.
Pada titik itu, kebenaran tidak lagi menjadi cahaya yang menerangi jalan,
melainkan berubah menjadi senjata untuk memukul orang yang berjalan di jalan
yang berbeda. Kita tidak lagi bertanya apakah perbedaan itu dapat dipahami,
tetapi sibuk mencari alasan mengapa orang lain harus dianggap salah.
Padahal merasa benar dan menjadi bijaksana adalah dua hal yang
tidak selalu berjalan bersama. Seseorang boleh saja memegang keyakinannya
dengan teguh, tetapi keteguhan tidak mengharuskan seseorang kehilangan
kelembutan; seseorang dapat mempertahankan prinsip tanpa menjadikan perbedaan
sebagai alasan untuk merendahkan martabat manusia lain.
Kebenaran yang kita yakini tidak menjadi lebih benar hanya karena
kita menyampaikannya dengan kemarahan, sebagaimana kesalahan orang lain tidak
menjadi lebih mudah diperbaiki hanya karena kita menghakiminya dengan keras.
Kadang-kadang yang paling dibutuhkan oleh sebuah kebenaran bukanlah suara yang
semakin keras, melainkan manusia yang cukup bijaksana untuk membawanya dengan
cara yang tidak melukai.
Prinsipnya adalah Ya ayyuhan-nasu, inna khalaqnakum min dzakarin
wa untsa, wa ja'alnakum syu'uban wa qaba'ila lita'arafu. Wahai manusia,
Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu
menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.
Kata lita'arafu, agar saling mengenal, terasa penting untuk
direnungkan di tengah zaman yang begitu mudah mengubah perbedaan menjadi
permusuhan. Mungkin kita terlalu cepat ingin mengoreksi orang lain sebelum
sungguh-sungguh mengenalnya, terlalu cepat memberi label sebelum memahami
perjalanan hidupnya, dan terlalu cepat menghakimi sebelum mengetahui mengapa
seseorang sampai pada keyakinannya.
Dalam hal ini, kearifan Jawa tentang rukun terasa memiliki
percakapan yang menarik dengan kehidupan keberagamaan. Rukun tidak berarti
semua orang harus mempunyai pikiran yang sama, sebab kehidupan manusia sejak
awal memang dibangun oleh perbedaan watak, pengalaman, pengetahuan, tradisi,
dan cara memahami dunia. Rukun adalah kemampuan menjaga kehidupan agar
perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan, sehingga seseorang dapat tetap
teguh pada keyakinannya tanpa merasa perlu mencabut hak orang lain untuk menjadi
berbeda.
Mungkin karena itu pula ungkapan memayu hayuning bawana
menjadi penting untuk direnungkan, bahwa manusia tidak hanya dituntut
membesarkan dirinya, tetapi juga ikut merawat agar dunia tempat ia hidup tidak
semakin kehilangan keseimbangannya.
Kearifan semacam itu sebenarnya bukan hanya milik satu tradisi.
Dalam Buddhisme, manusia diajak melihat bagaimana keterikatan terhadap
keinginan dan ego dapat melahirkan penderitaan; dalam tradisi Kristen terdapat
pula peringatan agar kebaikan tidak dilakukan hanya demi memperoleh pandangan
dan pujian manusia; sementara dalam ajaran Hindu terdapat gagasan tentang
menjalankan kewajiban tanpa keterikatan berlebihan kepada hasilnya.
Bahasa, kitab, dan kerangka teologisnya tentu berbeda, tetapi
terdapat sebuah percakapan universal di dalamnya: manusia perlu belajar
melepaskan dirinya dari keinginan untuk selalu menjadi pusat. Mungkin di
situlah berbagai tradisi kebijaksanaan bertemu, yaitu pada usaha membebaskan
manusia dari penjara ego yang bahkan dapat menyusup ke dalam tindakan yang
tampaknya paling suci.
Sebab ego memang sangat pandai menyamar. Kita dapat merasa bangga
karena merasa rendah hati, merasa paling terbuka karena menganggap diri paling
toleran, bahkan merasa paling sederhana karena terus-menerus membandingkan
kesederhanaan kita dengan orang lain.
Kesombongan tidak selalu hadir dalam bentuk seseorang yang
membusungkan dada dan mengatakan dirinya hebat; kadang-kadang ia datang melalui
keyakinan bahwa kitalah yang paling memahami kerendahan hati, kitalah yang
paling mengerti agama, kitalah yang paling toleran, dan karena itu orang-orang
yang berbeda dari kita dianggap belum sampai pada tingkat kesadaran yang kita
miliki.
Pada saat itulah manusia perlu curiga kepada dirinya sendiri, sebab
bisa jadi yang sedang ia bela bukan lagi kebenaran, melainkan citra dirinya
sebagai orang yang benar.
Barangkali ukuran kedewasaan beragama justru dapat dilihat dari
kemampuan seseorang untuk bercermin kepada dirinya sendiri. Semakin banyak ilmu
yang dimiliki, semestinya semakin besar kesadarannya bahwa wilayah yang belum
ia ketahui jauh lebih luas daripada yang telah ia ketahui; semakin tinggi
kedudukannya, semestinya semakin mudah ia memberi tempat kepada orang lain;
semakin besar pengaruhnya, semestinya semakin hati-hati ia menggunakan
kata-kata karena tahu bahwa sebuah ucapan dapat menggerakkan manusia menuju
kebaikan atau kebencian.
Dalam bahasa yang sederhana, ilmu seharusnya membuat manusia
semakin tahu batas dirinya, bukan semakin sibuk menunjukkan batas kebodohan
orang lain.
Di sinilah kata cukup menjadi penting. Cukup bukan berarti berhenti
tumbuh, berhenti belajar, atau menyerah kepada keadaan, melainkan kemampuan
untuk tidak menjadikan pertumbuhan sebagai alasan untuk terus menerus merasa
kurang.
Orang yang mengenal cukup masih dapat bekerja keras, tetapi tidak
diperbudak oleh hasil; masih dapat mencari ilmu, tetapi tidak mabuk oleh
pengetahuan; masih dapat memiliki pengaruh, tetapi tidak menjadikan pengaruh
sebagai ukuran harga dirinya.
Ia memahami bahwa kehidupan bukan perlombaan tanpa garis akhir,
sebab pada akhirnya setiap manusia akan meninggalkan apa yang telah
dikumpulkannya dan kembali kepada asal yang tidak dapat ia bawa bersama-sama.
Kita kenal istilah sangkan paraning dumadi, innalillah wa
inna ilaihi rajiun, sebuah kesadaran tentang dari mana manusia berasal dan
ke mana ia akan kembali. Jika kesadaran tentang asal dan tujuan itu benar-benar
hidup di dalam diri, barangkali kita akan lebih berhati-hati dalam membesarkan
sesuatu yang sebenarnya sementara. Jabatan akan berakhir, pengikut akan
berpindah, popularitas akan surut, dan nama yang hari ini begitu sering disebut
suatu saat mungkin hanya tinggal tulisan yang perlahan dilupakan. Tubuh akan
kembali kepada tanah, sementara segala kemegahan yang pernah kita pertahankan
akan kehilangan daya di hadapan kematian.
Sederhananya, Kullu nafsin dzaa-iqatul-maut, wa innama
tuwaffauna ujurakum yaumal-qiyamah. Setiap jiwa akan merasakan kematian,
dan sesungguhnya pada hari kiamatlah pahala-pahala kamu disempurnakan. Ayat ini
seharusnya membuat manusia sedikit lebih tenang sekaligus sedikit lebih malu
terhadap kesibukannya sendiri dalam mengejar pengakuan.
Sebab apa pun yang hari ini kita banggakan pada akhirnya akan
berhadapan dengan sebuah kenyataan yang tidak dapat dinegosiasikan, kita semua
akan meninggalkan dunia ini, dan tidak satu pun pengikut, gelar, popularitas,
atau citra kesalehan dapat ikut masuk ke dalam kubur.
Mungkin perjalanan manusia bukanlah perjalanan dari tidak dikenal
menjadi terkenal, dari tidak berkuasa menjadi berkuasa, atau dari tidak
memiliki pengikut menjadi memiliki ribuan pengikut. Perjalanan yang lebih dalam
adalah perjalanan dari keinginan untuk dianggap besar menuju kesediaan menjadi
kecil di hadapan Tuhan, dari kegemaran memenangkan perdebatan menuju keinginan
memahami, dan dari kebutuhan untuk dipuji menuju kemampuan melakukan kebaikan
meskipun tidak seorang pun mengetahuinya.
Kita belajar bahwa kebenaran tidak harus kehilangan ketegasannya
hanya karena disampaikan dengan kelembutan, dan perbedaan tidak harus menjadi
musuh hanya karena kita memiliki keyakinan yang berbeda. Pada akhirnya,
barangkali tanda bahwa agama benar-benar hidup di dalam diri seseorang bukanlah
semakin sering ia menunjukkan bahwa dirinya saleh, melainkan semakin sulit ia
menyakiti manusia lain.
Sebab semakin dekat manusia kepada kebijaksanaan, mungkin semakin
sedikit kebutuhan untuk membesarkan dirinya sendiri. Ia mulai mengurangi
kesombongan, mengurangi kebencian, mengurangi kegemaran menghakimi, dan
mengurangi keinginan untuk selalu menang atas orang lain. Ia mulai memahami
bahwa dunia tidak membutuhkan lebih banyak manusia yang merasa dirinya paling
benar, tetapi membutuhkan manusia yang mampu membuat kebenaran hadir dengan
kasih sayang, keadilan, dan keteduhan.
Dan jika suatu hari semua panggung telah selesai, semua pengikut
telah pulang, semua gelar telah ditanggalkan, selama pernah hidup di dunia ini,
apakah kehadiran kita membuat kehidupan menjadi sedikit lebih teduh, atau
justru membuat dunia semakin gaduh karena kita terlalu sibuk membuktikan bahwa
kitalah yang benar?

Komentar
Posting Komentar