Rebutan Nama

Muktilaku.my.id - Agaknya yang menjadi keriwehan terbesar manusia adalah terlalu cepat mencintai nama, tetapi terlalu lambat mencintai makna.

Kita sering sibuk mencari siapa yang paling benar, siapa yang paling layak diikuti, siapa yang paling pantas berdiri di depan. Padahal, sejarah berkali-kali mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk yang terbatas. Setinggi apa pun ia dipuji, tetap ada celah untuk keliru. Sebersih apa pun ia dijaga, tetap ada kemungkinan tergelincir.

Artinya, ketika perjalanan hidup hanya ditambatkan pada figur, kita sedang menitipkan masa depan kepada sesuatu yang fana.

Begitu pula ketika kita terlalu mengagungkan kelompok. Kita lupa bahwa sebuah kelompok hanyalah wadah. Wadah bisa retak. Wadah bisa berubah bentuk. Bahkan bisa kehilangan ruhnya. Jika yang kita pertahankan hanya wadahnya, sementara air kehidupan di dalamnya telah mengering, apa lagi yang tersisa?

Sesungguhnya, yang layak dipertahankan bukanlah nama, bukan pula lambang, bukan pula warna. Tetapi yang layak diperjuangkan adalah nilai.

Nilai tidak meminta disembah. Ia hanya meminta dihidupkan. Ia menjadi gerak aksiologis, gerak peradaban dan roda perjalanan hidup. Ini tetang literasi batin, tetang literasi wadah, tentang kesadaran akan pentingnya mendayagunakan akal dan hati. Sehingga, nilai bukan semata ilmu pengetahuan, ia juga langkah ritmis yang tidak terburu-buru dan juga tidak terlalu lambat. 

Kejujuran tidak peduli berasal dari organisasi mana. Kerendahan hati tidak bertanya siapa gurumu. Kepedulian tidak menanyakan kartu anggota. Kasih sayang tidak memeriksa afiliasi.

Ilustrasi Berebut. Sumber: Generate AI

Nilai bekerja diam-diam. Ia tumbuh melalui kebiasaan, bukan slogan. Ia berakar melalui laku, bukan tepuk tangan.

Karena itu, belajar semestinya bukan tentang mengumpulkan pengikut, melainkan memperbanyak teman seperjalanan.

Kita tebtu butuh sinau bareng, dan bukan menjadi ruang untuk menyeragamkan isi kepala. Ia adalah tempat di mana setiap orang membawa bekal pengalaman, lalu saling menukar cahaya. Ada yang datang membawa pertanyaan. Ada yang datang membawa kegelisahan. Ada pula yang datang hanya ingin mendengarkan. Semuanya pulang dengan sesuatu yang mungkin tidak sama, tetapi sama-sama bertumbuh. Di situlah keindahannya.

Tidak ada yang menjadi pusat semesta. Yang menjadi pusat adalah pencarian bersama. Sebab ilmu kehilangan kemuliaannya ketika berubah menjadi alat untuk meninggikan diri. Pengetahuan menjadi kering ketika hanya dipakai memenangkan perdebatan. Sebaliknya, ilmu menemukan maknanya ketika ia menjelma menjadi akhlak, menjadi tindakan, menjadi manfaat bagi sesama.

Mungkin kita memang membutuhkan guru. Kita membutuhkan orang-orang yang lebih dahulu berjalan agar tidak tersesat. Namun guru terbaik sekalipun tidak pernah meminta muridnya berhenti pada dirinya. Guru sejati selalu mengarahkan pandangan murid kepada nilai yang lebih tinggi daripada dirinya sendiri.

Karena manusia akan pulang. Nama akan perlahan dilupakan. Foto-foto akan menguning. Suara-suara akan menghilang ditelan waktu.

Tetapi nilai akan terus menemukan rumah baru di dada orang-orang yang bersedia mengamalkannya. Maka jangan terlalu sibuk mempertahankan siapa yang memimpin. Lebih penting memastikan nilai apa yang sedang dipimpin.

Jangan terlalu cemas ketika satu tokoh pergi. Yang perlu dicemaskan adalah ketika kejujuran ikut pergi bersamanya, ketika kasih sayang ikut dikuburkan, ketika semangat belajar bersama berhenti karena kehilangan satu nama.

Sebab perjalanan peradaban tidak pernah bergantung pada satu orang. Ia bertahan karena selalu ada manusia-manusia biasa yang dengan tekun merawat nilai, meski tak dikenal siapa-siapa. Barangkali, itulah makna terdalam dari sinau bareng.

Bukan forum untuk melahirkan idola. Bukan panggung untuk mencari tepuk tangan. Bukan tempat membangun kultus. Melainkan sebuah ikhtiar untuk saling mengingatkan bahwa kita semua sama-sama murid kehidupan.

Kita datang dengan keterbatasan, duduk dalam kerendahan hati, berbagi secukupnya, mendengarkan sebanyak-banyaknya, lalu pulang membawa tanggung jawab untuk menghidupkan nilai dalam kehidupan sehari-hari. Karena pada akhirnya, dunia tidak berubah oleh banyaknya orang yang hafal kata-kata bijak.

Dunia berubah oleh sedikit orang yang bersedia menjadikan nilai sebagai cara hidup. Dan mungkin, itulah warisan terbaik yang bisa kita tinggalkan, bukan agar nama kita dikenang, melainkan agar nilai-nilai yang kita rawat terus menemukan kehidupan pada generasi yang bahkan tak pernah mengenal siapa kita.[]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Merawat Jejak, Menjalani Laku, Perjalanan Gotong Royong

Gunungjati, Bagor dan Segala Perjumpaan

Garasi Budaya, Membaca Zaman dari Gang Sidoluhur