Arah Pergerakan Kultur dan Kebudayaan

Muktilaku.my.id - Ruang komunikasi sosial kebudayaan dengan beragam produk kecerdasan dan kedalaman rasa adalah Lesbumi (Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia). Sejak awal, Lesbumi lahir dari rahim NU (Nahdlatul Ulama) yang percaya bahwa Islam tidak terbatas pada urusan keagamaan formal (Mahdloh) semata.

Ia juga menyapa manusia melalui bahasa yang akrab seperti tembang, wayang, ukiran, hingga ritus-ritus dan tradisi kecil yang tumbuh di akar rumput. Di situlah dakwah menemukan fleksibilitas yang paling hangat dengan tidak menghakimi, tidak menggurui, tapi merangkul.

Di usia ke-66 ini, Lesbumi NU sebenarnya sedang berdiri di depan sebuah “cermin panjang” sejarah, antara warisan, perubahan zaman, dan pertanyaan tentang arah masa depan. Artinya nilai yang lahir bukan sekadar nostalgia dan perayaan-perayaan semata, tapi juga evaluasi yang jujur, bahkan kadang agak gelisah.



Pertama, soal jati diri itu sendiri antara dakwah dan kebudayaan. Sejak awal, Lesbumi hadir sebagai jembatan antara Islam dan seni budaya serta produk-produk kecerdasan tentang cipta, rasa dan karsha. Ia bukan sekadar lembaga kesenian, tapi ruang di mana nilai-nilai Islam berdialog dengan tradisi lokal.

Ini menjadi napas penting bagi NU, dengan menjaga Islam tetap membumi, tidak tercerabut dari akar budaya. Pun pada konteks yang lain, Islam dengan wajah kasih sayang bagi semua, prinsip moralitasnya adalah rahmatan lil’alamin, menjadi ruang cinta bagi serluruh alam. Pertanyaannya adalah apakah Lesbumi masih menjadi ruang kreatif yang hidup, atau justru terjebak dalam simbolisme kultural yang repetitif?

Kedua, yaitu tentang kemandirian, semangat berdikari dalam ekosistem budaya modern. Dulu, berkesenian adalah panggilan nilai, kita tahu bahwa seni adalah tuntunan dan bukan tontonan semata. Sekarang, ia juga bersinggungan dengan industri, algoritma, dan pasar. Tantangannya bukan hanya berkarya, tapi juga bertahan.

Lantas apakah apakah para seniman NU sudah memiliki ruang produksi dan distribusi yang mandiri? Ataukah masih bergantung pada momentum seremonial dan proyek-proyek sesaat? Berdikari hari ini bukan hanya soal ideologi, tapi juga soal infrastruktur dan perangkat media, platform, hingga ekonomi kreatif. Ini menjadi lumbung kemandirian dan ideal sebuah kedaulatan.

Bahan refleksi yang ketiga adalah tentang regenerasi dan bahasa zaman. Generasi muda hari ini hidup dalam dunia yang berbeda dengan sebelumnya, ini tentang kemudahan informasi, cepat, visual, dan berbasis digital. Mereka mungkin tidak lagi akrab dengan panggung konvensional, tapi sangat dekat dengan layar gadged dan pc di tangan mereka.

Lantas apakah Lesbumi mampu menerjemahkan nilai-nilai tradisi ke dalam bahasa baru tanpa kehilangan ruhnya? Atau justru gagal menjangkau generasi yang seharusnya menjadi penerusnya.

Kemudia Lesbumi juga punya peran tentang posisi kritis dalam realitas sosial. Seni dan budaya tidak pernah netral. Ia selalu punya sikap, entah disadari atau tidak. Dalam sejarahnya, Lesbumi pernah menjadi ruang ekspresi sekaligus perlawanan kultural, kita tahu bagaimana persinggungan dengan Lekra saat itu.

Di usia sekarang, hal yang harus disadari adalah apakah ia masih berani bersuara terhadap ketimpangan sosial, krisis moral, atau banalitas budaya populer? Atau justru menjadi terlalu aman dan kehilangan daya kritisnya. Realita dan fakta sosial yang terjadi adalah pekerjaan rumah yang membutuhkan nafas panjang. Sehingga, daya kritis melalui ruang-ruang ekspresif itu juga penting dan harus senantiasa bertumbuh.

Keempat, merawat tradisi tanpa memuseumkannya. Tradisi bukan benda mati. Ia hidup dinamis, berubah, dan bernegosiasi dengan zaman. Lesbumi punya tanggung jawab besar untuk menjaga agar tradisi tetap relevan dan bukan sekadar dipamerkan, tapi dihidupi, dirawat dan diurapi agar tetap urip. Lantas apakah selama ini tradisi hanya dirawat sebagai “warisan”, atau benar-benar diolah menjadi sumber inspirasi baru yang berdampak, atau justru sebaliknya.

Usia 66 tahun adalah usia matang, bukan untuk berpuas diri, tapi untuk memperdalam arah. Berdiri itu soal eksistensi, tapi berdikari adalah soal keberanian untuk menentukan jalan sendiri. Lesbumi tidak cukup hanya hadir; ia perlu hadir dengan makna.

Apakah Lesbumi masih menjadi ruang di mana seni, iman, dan realitas sosial saling bertemu secara hidup, atau hanya menjadi nama yang kita hormati tanpa benar-benar kita hidupi? Dari pertanyaan itu, masa depan bisa mulai dirumuskan kembali.

Arah dan praktisnya Lesbumi adalah menghadirkan makna. Lesbumi tidak cukup hanya ada sebagai lembaga, ia harus hidup sebagai gerakan kultural. Gerakan yang tidak selalu besar, tapi nyata. Tidak selalu ramai, tapi berdampak.

Di usia 66 tahun, mungkin yang paling dibutuhkan bukan jawaban panjang, melainkan keberanian untuk terus berterus terang tentang apakah kita masih menghidupi nilai-nilai yang kita yakini, atau hanya merawat namanya saja? Karena dalam kebudayaan Nusantara, yang hidup bukanlah apa yang sering disebut, melainkan apa yang terus dijalankan dengan pelan, tekun, dan penuh kesadaran.[]

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peta Historiografi Islam Nusantara

Garasi Budaya, Membaca Zaman dari Gang Sidoluhur

Lahir, Tumbuh dan Menanam Kembali