Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2026

Warisan Hidup itu Bernama Wedhatama

Gambar
Muktilaku.my.id -   Salah satu tradisi dan menjadi kearifan nusantara, khususnya di Jawa adalah jagongan. Duduk bersila dengan kopi dan udud yang nyempil di sela-sela jari, pala pendhem dan makanan ringan yang tersaji seakan menjadi saksi sebuah perjumpaan saling mendengar dan bertutur tentang apapun. Sampai hari ini, jagongan masih kerap dijumpai dalam berbagai kegiatan, pasca slametan, acara-acara formal kemasyarakatan atau sekadar kongkow di gardu dan brak-brak pertigaan kampung. Seperti tidak ada yang menarik dari jagongan , tapi ada nilai yang samar – yang tidak sedikit menganggap menghabiskan waktu berlalu begitu saja. Padahal terselenggaranya sebuah komunikasi tak luput dari jagongan.   Selasa, 10 Februari 2026 lalu di Lawangsari Cafe, Gubukklakah Poncokusumo Malang, jagongan terasa hangat dan penuh, tidak ada jarak yang dibuat-buat di antara yang bersila duduk bersama, baik laki-laki pun perempuan. Jaket tebal dan sarung yang tanggal di antara leher dan dada menja...

Gunungjati, Bagor dan Segala Perjumpaan

Gambar
Muktilaku.my.id - 5 Februari 2026 menjadi titik balik perjumpaan yang senantiasa disyukuri sebagai warisan perjumpaan dari masa lalu, perjumpaan yang menjadi warisan spirit antar personalitas, individu dan kosmik kecil ( jagad cilik ). Di Punden, di bawah tiga randu yang menjulang tinggi kehangan itu menjadi spirit kosmos dalam bentuk syukur. Di Desa Gunungjati, dusun Bagor Jabung, kami melingkar dalam sambung leluhur dengan duduk bersila bersama (paselan jati).  Ini adalah bagian dari ucap dan sikap syukur, membangun kesadaran kausalitas horizontal dan vertikal, antara manusia, alam semesta dan Tuhan. Sebuah ungkapan dari kanjeng Nabi melalui periwayatan Abu Dawud menegaskan bahwa tidak dikatakan bersyukur kepada Tuhan, selagi ia tidak pernah menghargai dan berterima kasih kepada sesama manusia ( man la yaskuru annas, la yaskuru Allaha ). Interpretasinya adalah menautkan diri dengan alam, alam semesta dan alam kecil (manusia) dengan sikap yang disebut matur suwun.  Kata para...

Merawat Jejak, Menjalani Laku, Perjalanan Gotong Royong

Gambar
Muktilaku.my.id - Tidak terasa, Komunitas budaya mukti laku sudah masuk pada tahun ketiga.  Komunitas budaya Mukti Laku lahir pada 17 November 2023 di Malang dari kegelisahan yang sederhana namun mendalam: semakin jauhnya manusia dari akar budayanya sendiri. Bagi Mukti Laku, budaya bukan sekadar artefak, bukan pula romantisme masa lalu, melainkan laku hidup—cara manusia memahami dirinya, lingkungannya, dan relasi sosial yang ia bangun dari hari ke hari. Sejak awal, Mukti Laku memilih untuk tidak berjalan sendiri. Mereka menyadari bahwa pengetahuan budaya tidak hidup di ruang seminar semata, tetapi berdiam di desa, di adat, di tutur para sesepuh, dan di praktik keseharian masyarakat. Dari kesadaran inilah kolaborasi dengan berbagai lembaga adat dan komunitas lokal mulai dirintis. Rangkaian Kegiatan 3 tahun terakhir Komunitas Budaya Muktilaku Di Desa Kalipare, Mukti Laku bertemu dengan lembaga adat yang masih menjaga nilai-nilai lokal sebagai penopang kehidupan desa. Kolaborasi ini m...

Garasi Budaya, Membaca Zaman dari Gang Sidoluhur

Gambar
Muktilaku.my.id -  Garasi Budaya itu bukan sekadar ruang. Ia adalah panggonan kanggo mikir, tempat pikiran-pikiran bertemu, saling senggol, lalu melahirkan makna. Letaknya di Gang Sidoluhur, Kepanjen—gang dengan gegap-gempitanya. Di sanalah sejarah, filsafat, agama, sains, dan pengalaman hidup saling srawung, tanpa merasa paling benar. Malam-malam di Garasi Budaya sering terasa seperti menembus lintas dimensi. Waktu seolah tidak linear. Masa lalu, masa kini, dan masa depan duduk melingkar di antara meja dan bangku kayu yang teduh. Ada Pak Mutik dengan ketenangan khas wong sepuh , Pak Ubeb yang ucapannya sederhana tapi nancep, Mas Ibnu yang gelisah intelektualnya tak pernah padam, Pak Gopung dengan ingatan-ingatan yang panjang dan menggebu, Pak Eko yang selalu menarik diskusi ke realitas sosial, dan Dahri yang lebih sering mendengar, mencatat dalam batin. Obrolan tidak pernah dimulai dari teori besar. Ia lahir dari pengalaman sehari-hari, dari keresahan kecil, dari pertanyaan: “Sebe...